Belajar Bahasa Inggris dengan mudah dan cepat

Latihan Bersama TNI-AU dan RSAF di Bali


DENPASAR - Lima pesawat tempur membentuk formasi di udara saat latihan bersama "Elang Indopura" di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Rabu (8/12). Latihan tempur antara Indonesia - Singapura itu untuk mempererat hubungan kedua negara yang melibatkan berbagai jenis pesawat, F-16 dan Sukhoi dari Indonesia sedangkan Singapura menurunkan pesawat F-16, F-5 dan F-15SG. FOTO ANTARA/Edoardo/nym/Koz/mes/10; Indoflyer: E.Tanuliadi, Edi Permono

 







TNI Bentuk Tim Peninjau Teknis Hibah F-16

KUTAI TIMUR - Panglima TNI membentuk tim peninjauan teknis untuk mengkaji hibah pesawat F-16A/B dari Amerika Serikat (AS). Panglima berharap hibah 24 unit pesawat tempur ini dapat menambah kekuatan pertahanan udara.

Rencana pembentukan tim peninjauan teknis pesawat tempur F-16A/B ini merupakan rangkaian pertimbangan atas hibah Amerika Serikat kepada Indonesia. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengaku TNI masih mempertimbangkan tawaran hibah AS.

"Prinsipnya, kami sedang mempelajari. Tim dari TNI sudah kami persiapkan. Dan akan dilanjutkan dengan peninjauan.," ujarnya usai melakukan peninjauan latihan perang Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI Siaga Kilat. XXVII Tahun 2010 di Kutai Timur, Senin, (6/12).

Ia menyatakan TNI sudah melakukan diskusi untuk menimbang tawaran dari negara adi daya ini. TNI-AU terlibat langsung dalam rangkaian pertimbangan. Peninjauan teknis merupakan tindak lanjut atas diskusi ini.

Panglima TNI menginginkan pertimbangan ini diselesaikan secepatnya. Hasil pengkajian atas hibah ini akan menentukan pertahanan negara. Ia ingin hibah ini dapat menambah kekuatan tempur udara.

"Kalau kami, ingin cepat selesai kemudian kekuatan tempur udara akan lebih banyak," tuturnya.

Namun langkah untuk mengambil keputusan masih panjang. Hasil pengkajian masih harus dikomunikasikan dengan pemegang keputusan. "Apakah itu DPR dan yang lain. Jadi masih perlu waktu," lanjutnya.
Sumber : http://alutsista.blogspot.com


Prortotype N-219 Mulai Di Produksi Tahun 2013

JAKARTA - Pemerintah menargetkan memproduksi prototipe pesawat perintis berkapasitas relatif kecil untuk menghubungkan daerah-daerah yang tidak bisa diakses jalur darat mulai 2013.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT terkait produksi pesawat jenis N219 yang isinya 19 penumpang yang bisa mendarat pada landasan sederhana paling tidak tahun 2013," kata Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Sabtu (4/12).

Ia mengatakan, PT Dirgantara Indonesia paling tidak akan ditugasi membangun dua unit pesawat sejenis berharga sekitar 3,8 juta dolar AS per unit tersebut tiga tahun mendatang.

Menurut dia, pemerintah sekurang-kurangnya harus mengucurkan modal awal sebesar 40 juta dolar AS untuk produksi awal pesawat yang dirancang mengangkut orang dan barang tersebut.

"Kalau menurut PT DI, untuk mencapai BEP (break even point) harus menjual 27 pesawat. Modalnya sekitar 250 juta dolar AS, tapi untuk modal dasar pembangunan butuh 40 juta dolar AS," katanya.

Pemerintah, kata dia, juga akan menyiapkan skema subsidi untuk operasi pesawat-pesawat penumpang berkapasitas kecil itu di daerah-daerah baru yang belum terakses moda transportasi darat dan laut.

"Mungkin nanti akan ada subsidi untuk tiket atau avtur," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan maskapai penerbangan membeli pesawat-pesawat kecil produksi PT Dirgantara Indonesia tersebut dan mengoperasikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keterhubungan antarwilayah dan selanjutnya memicu pertumbuhan ekonomi daerah-daerah yang sebelumnya terasing karena keterbatasan akses transportasi.

"Pemerintah mendorong ini karena jumlah pesawat yang beroperasi ke daerah-daerah yang ada di Papua, Sulawesi, dan Sumatera cenderung makin sedikit, padahal masyarakat di daerah sangat membutuhkan," demikian Soerjono.
Sumber : http://alutsista.blogspot.com


Kerjasama Teknik Militer RI-Rusia Diharapkan Tingkatkan Alutsista

JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Rabu (30/11), menerima kunjungan kehormatan Ketua Delegasi Rusia dalam Sidang ke-6 kerjasama teknik-militer RI-Rusia Mr.Vyaheslav Dzirkaln, di kediaman Menhan, Jakarta.

Kedatangannya kali ini menjadi pembicaraan pembuka sebelum dilaksanakannya Sidang ke-6 kerjasama teknik-militer RI-Rusia di kantor Kementerian Pertahanan. Sidang akan berlangsung selama dua hari (1-2 Desember) dimana hari kedua akan digunakan khusus untuk membicarakan kemungkinan kerjasama antar industri pertahanan kedua negara.

Purnomo yang didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan Laksda TNI Susilo, mengharapkan sidang yang dipimpin oleh Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto dapat berhasil dengan baik.

Mr.Vyaheslav Dzirkaln mengatakan, pemerintahnya menyambut baik pertemuan ini, Karena menurutnya pertemuan ini dapat digunakan untuk membicarakan perkembangan terbaru hubungan teknik militer kedua negara. Dirinya juga setuju harapan Menhan Purnomo dan menyatakan pihaknya juga hasil terbaik dari pertemuan ini.

Rencana Penambahan Pesawat Sukhoi

Sementara itu, saat membuka Sidang, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto mengatakan, sidang ini merupakan pertemuan rutin setiap tahun dilaksanakan secara bergantian sesuai dengan statuta perjanjian Pemerintah RI-Rusia di bidang kerjasama teknik-militer. Pertemuan sebelumnya pernah dilaksanakan di Rusia.

Banyak hal yang telah dirumuskan dari hasil pertemuan tahunan ini, beberapa isu penting yang akan dibahas dalam pertemuan saat ini adalah tentang rencana penambahan enam pesawat Sukhoi-30 dan Sukhoi-27 serta pembangunan fasilitas service maintainance center untuk beberapa alutsista produk-produk Rusia yang ada di Indonesia seperti pesawat Sukhoi, helicopter, dan peluru kendali.

Hal lain yang ingin dibahas adalah bagaimana sistem atau rantai pengadaan alutsista dari Rusia dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga kesiapan-kesiapan alutsista yang dimiliki oleh TNI dapat cepat teratasi. Hal itu dimaksudkan agar tingkat kesiapan operasional alutsista TNI menjadi lebih tinggi.
Sumber : http://alutsista.blogspot.com


Indonesia Tercatat Penyumbang Terbesar Pasukan PBB

Satgas Konga XXIII-E UNIFIL di Lebanon Selatan

JAKARTA - Indonesia tercatat sebagai satu dari 20 negara terbanyak yang menyumbangkan pasukan dalam operasi misi perdamaian PBB.

Kepala Staf Umum TNI Marsekal Madya Edy Harjoko dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (30/11), menjelaskan, jumlah personel militer Indonesia yang terlibat dalam misi perdamaian PBB mencapai 1.785 orang.

"Tak hanya itu, Indonesia juga dinilai sebagai pasukan perdamaian yang memiliki profesionalitas yang tinggi serta dekat di hati masyarakat setempat," katanya.

Sebelumnya, Kepala Staf Umum TNI Marsekal Madya Edy Harjoko menerima kunjungan kehormatan Assistant Secretary General For Departement of Field Support (ASG for DFS) of United Nations atau Asisten Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Departemen Dukungan Lapangan, Anthony Banbury.

Kunjungan tersebut bertujuan mendapatkan masukan dari negara-negara utama penyumbang misi perdamaian PBB terhadap format dan konsep strategi dalam memberikan dukungan logistik lapangan secara global guna mendukung operasi misi perdamaian PBB di seluruh dunia.

"Indonesia agaknya patut berbangga, karena tidak semua negara mendapatkan kunjungan kehormatan ini. Indonesia dipilih menjadi salah satu negara yang dikunjungi `ASG for DFS` karena dinilai memiliki peran signifikan dan prestasi di dalam mendukung operasi perdamaian PBB," kata Eddy.

Kasum TNI juga berharap agar `ASG for DFS` dapat terus meningkatkan dukungan logistik dan "reimbursement" bagi pasukan TNI yang terlibat dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB.

Sumber : http://alutsista.blogspot.com


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More